blog visitors

Kemajuan dan Kemunduran Aspek Sosial Etika Sulawesi Selatan [RELEVANSI PENDIDIKAN ETIKA DAN MORAL DI SULAWESI SELATAN] Penyimpangan Sosial

Kemajuan dan Kemunduran Aspek Sosial Etika Sulawesi Selatan[RELEVANSI PENDIDIKAN ETIKA DAN MORAL DI SULAWESI SELATAN] & Penyimpangan Sosial



Penyimpangan sosial,fenomena yang senantiasa terjadi disetiap waktu dibelahan bumi manapun,di Makassar Sulawesi selatan khususnya menjadi hal yang sanagat lumrah ketika terjadi penyimpangan sosial, penggambaran atau explain yang seharusnya digunakan untuk mendidik dari berbagai media justru kini kea rah yang salah dan berevolusi menjadi penyimpangan terkhusus yang disaksikan langsung dengan visual kasus yang sangat sering berhembus di public Sulawesi selatan.




 PENDAHULUAN
BAB 1
Latar Belakang.
Pentingnya pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau bangsa sudah menjadi kebutuhan mutlak begitupun moral.
Pentingnya pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau bangsa sudah menjadi kebutuhan mutlak. Karena itu pendidikan harus dilakukan secara sadar melalui sebuah kesengajaan yang terencana dan terorganisir dengan baik. Semua demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Begitu juga dengan sasaran lain meliputi obyek peserta, sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang lain.
Tujuan Pendidikan
Konferensi Internasional I tentang pendidikan (Islam) di Makkah merumuskan tujuan pendidikan, antara lain sebagai berikut:
“Education should aim at the balanced growth of the total personality of man, through the training of man’s spirit, intellect the rational itself , feelings and bodily senses — both individually and collectively and motivate all these aspect toward goodness and attainment of perfection — these at complete submission to Allah on the level of the individual, community at large —,’ menumbuhkan kepribadian manusia secara totalitas mencakup seperti semangat, kecerdasan, perasaan dan sebagainya, baik dalam kehidupan pribadi dan, masyarakatnya untuk melakukan kebaikan dan kesempurnaan, serta dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT, melalui tindakan pribadi, masyarakat maupun kemanusiaan secara luas’.
Secara umum tujuan pendidikan harus melahirkan orang-orang yang memiliki kecerdasan (dalam pengertian luas) sehingga menumbuhkan dan menciptakan manusia-manusia yang memiliki kepribadian secara utuh, akhlak dan intelektual.
Kecerdasan ini meliputi intelektualitas sebagai manusia. Cerdas emosional dan spiritual. Kesalehan kepribadiannya menjadi agen-agen sosial yang siap berubah dan mampu mengubah sekitar lingkungannya. Kecerdasan ini ditandai dengan beberapa indikasi antara lain:
Kecerdasan intelektual meliputi:
1. Mampu berfikir secara sistematis. Dahulu ketika masih duduk di bangku SMP atau SMU, guru di sekolah mengajarkan dengan metode ilmiyah. Itulah sesungguhnya fungsi itu, melatih dan membiasakan otak untuk berpikir step by step. Dalam menanggapi satu masalah.
2. Mampu memahami dan menganalisa serta mencarikan jalan keluar terhadap suatu permasalahan
3. Memiliki kekuatan berfikir untuk selalu berpihak pada yang baik dan benar
4. Pikirannya selalu terbuka untuk menerima berbagai macam informasi
5. Selalu siap belajar kepada setiap orang
6. Dan lain-lain
Kecerdasan intelektual tak akan berarti, tanpa adanya kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seseorang. Kecerdasan emosional atau lazim disebut EQ, diantaranya, Memiliki kemampuan mengendalikan diri, sabar, ulet, tabah dan tahan uji dalam menghadapi berbagai tantangan, toleransi dalam menghadapi berbagai perbedaan.


 ABSTRAK

MUHAMMAD REZKI RASYAK  (1152130105) “Relevansi pendidikan etika dan moral yang ada di Sulawesi selatan”.  (final study working Business English)
(Di bimbing oleh  Nurul kusuma wardany )
Penyimpangan sosial,fenomena yang senantiasa terjadi disetiap waktu dibelahan bumi manapun,di Makassar Sulawesi selatan khususnya menjadi hal yang sanagat lumrah ketika terjadi penyimpangan sosial, penggambaran atau explain yang seharusnya digunakan untuk mendidik dari berbagai media justru kini kea rah yang salah dan berevolusi menjadi penyimpangan terkhusus yang disaksikan langsung dengan visual kasus yang sangat sering berhembus di public Sulawesi selatan.
Selanjutnya para pemuda yang seharusnya bertugas sebagai penerus justru termakan dan terprofokasi oleh ajakan dan omongan semu dari pihak yang menginginkan perpechan,pertanyaan selanjutnya muncul bagaimana mencegah penyimpangan tersebut dan bagaimana pula mengerosi perilaku menyimpang tersebut,bagaimana tingkat pendidikan kita sekarang terkhusus di Sulawesi-selatan.
Penelitin in bertujuan menggali dan mendapatkan informasi yang mendalam tentang (1) penyimpangan  dan proses pembentukan konsep diri , (2) bagaiman peran media dan visual dalam konstruksi dan pembangunan karakter kea rah yang lebih relevan, (3) Peran para pendidik dan elit masyarakat dalam proses pembentukan karakter siswa. (4) Pemikiran tentang penyimpangan sosial serta imajinasi yang baik kedepannya, (5) proses rekonstruksi dan upaya saya dan pemerintah untuk kedepannya.

Untuk jenis penelitian adalah penelitian struktur dan kuantitatif dengan menggunakan metodologi fenomenologi-humanistik,yakni pengungkapan secara mendalam pada proses konstruksi penyimpangan sosial.Dalam pengumpulan datanya,peneliti bertindak selaku instrument dan media penelitian.
Data dikumpulkan meliputi : (1) abstrakisme dan penggambaran para masyarakat tentang kasus penyimpangan sosial, (2) proses konstruksi (pembangunan karaktera0) yang dilakukan oleh media massa terutama visual dan literature langsung dari lapangan maupun dari website elktronik yang saya akses sehubungan dengan penyimpangan, (3) upaya pengekspresian atau penceritaan kembali histori terjadinya penyimpangan.Data tersebut diperoleh melalui dua sumber data,yakni dokumen dan informan.Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui metode wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah.Data selanjutnya  dianalisis dengan menggunakan teknik analisis eksploratif (analisis data lapangan).
Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep penyimpangan sosial adalah perilaku diluar daripada norma yang terjadi karena berbagai faktor, dari situ kita dapat menggali penyebab dan pencegahannya.

Kata kunci : candoleng-doleng: tarian seksual pengumbar hawa nafsu
                        Odha : penderita HIV aids




KEADAAN PENDIDIKAN SULAWESI SELATAN TERKAIT DENGAN RLEVANSI PENDIDIKAN ETIKA DAN MORAL.


Pendidikan Sulawesi Selatan

Tingkat Pendidikan
Gambaran kondisi pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan yang akan ditampilkan pada tingkat pendidikan ini berupa kemampuan baca tulis, tingkat partisipasi pendidikan, persentase jenjang pendidikan yang ditamatkan, rasio penduduk yang putus sekolah.
Kemampuan Baca Tulis
Secara nasional persentase penduduk yang dapat membaca huruf latin sebanyak 90,07%. Sedangkan mereka yang dapat membaca huruf lainnya sebanyak 0,87% dan yang buta huruf sebanyak 9,07%. Di perdesaan, penduduk yang buta huruf lebih banyak dibanding di perkotaan (12,16% berbanding 4,91%). Persentase penduduk yang buta huruf pada perempuan, yaitu sebesar 12,28% lebih tinggi dibanding pada laki-laki yang hanya sebesar 5,84%. Provinsi dengan persentase penduduk dengan angka buta huruf tertinggi adalah Papua yaitu sebesar 23,39%, menyusul NTB (21,31%) dan Jawa Timur (15,03%), sedangkan yang terendah adalah Provinsi Sulawesi Utara (0,99%), menyusul DKI Jakarta (1,47%) dan Maluku (2,56%).
Angka melek huruf (AMH) penduduk usia 10 tahun keatas  di Sulawesi Selatan sekitar 86,39. Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun 2000 yaitu 84,53. Terjadinya penurunan angka melek huruf dari tahun 2000 yang mencapai 84,53 ke tahun 2001 dengan angka 83,55, atau turun sebanyak 2,12. Penyebabnya diduga masih merupakan pengaruh dari krisis ekonomi tahun 1998 yang pengaruhnya baru kelihatan pada tahun 2001. Tahun 2002 AMH masih stagnan di 83,55 yang sekaligus menjadi masa pemulihan keberdayaan masyarakat dari krisis, kemudian tahun berikutnya (2003) AMH 85,02 yang berarti sudah mengalami peningkatan dari  tahun 2002.
Angka Melek Huruf Penduduk usia 10 Tahun Ke Atas dan Jenis Kelamin Di Sulsel Tahun 2000-2005
Tahun Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
2005 88,61 84,37 86,39
2004 88,03 83,55 85,71
2003 87,45 82,73 85,02
2002 87,75 80,81 83,55
2001 86,55 80,81 83,55
2000 88,13 81,27 84,53
Sumber: BPS Tahun 2006
Berdasarkan jenis kelamin, selisih angka melek huruf laki-laki dan perempuan masih cukup tinggi. Perbedaan angka melek huruf menurut jenis kelamin mengalami penurunan dari tahun ke tahun dan pada tahun 2001 selisihnya turun menjadi sekitar 5,74 poin dari angka melek huruf laki-laki sekitar 86,55 dan perempuan sekitar 80,81. Kemudian pada tahun 2002 selisih angka melek huruf laki-laki dan angka melek huruf perempuan turun lagi menjadi 4,96 poin. Keadaan tersebut, dapat dijadikan sebagai indikasi bahwa semakin meningkat kesadaran akan pentingnya pendidikan tanpa melihat status jenis kelamin, meskipun disadari pula bahwa di beberapa masyarakat masih ada yang memprioritaskan anak laki-laki untuk disekolahkan dari pada anak perempuannya.
Menurut daerah kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan hasil Susenas 2005 dalam Profil Kesehatan Sulsel Tahun 2005, terlihat bahwa variasi angka melek huruf berkisar antara 73 sampai 96. Angka melek huruf tertinggi terdapat di empat kabupaten/kota yaitu Kota Palopo 96, Makassar 96, Pare-Pare 94 dan Kabupaten Luwu Utara sekitar 90. Sementara itu kabupaten yang angka melek hurufnya 73 yaitu Kabupaten Jeneponto.
Menurut jenis kelamin dan kabupaten/kota, angka melek huruf menunjukkan bahwa pada laki-laki berkisar antara 76 sampai 98 dengan angka terendah adalah Kabupaten Jeneponto (76,00) sedangkan angka tertinggi adalah Kota Palopo (97,88). Untuk angka melek huruf perempuan berkisar antara 70 sampai 95 dengan angka terendah di Kabupaten Jeneponto dan tertinggi di Kota Makassar.
Partisipasi Pendidikan
Pada tahun 2003 persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah bersekolah sebesar 8,50%. Secara nasional, pada tahun 2003 penduduk usia 10 tahun ke atas yang masih bersekolah sebesar 19,09% yang meliputi 7,92% bersekolah di SD/MI, 5,97% di SLTP/MTs, 3,79% di SMU/SMK/MA dan 1,41% di Akademi/Universitas. Secara nasional penduduk berumur 10 tahun ke atas yang  tidak/belum pernah sekolah sebagian besar tinggal di perdesaan (11,32%), dan hanya sedikit yang tinggal di perkotaan (4,07%).
Menurut jenis kelamin, terlihat penduduk perempuan yang tidak/belum pernah sekolah besarnya 2 kali lipat penduduk laki-laki (11,56% berbanding 5,43%). Secara umum Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan lebih besar dibanding angka partisipasi sekolah laki-laki pada kelompok umur 7 - 12 tahun dan 13 - 15 tahun. Sementara pada kelompok umur 16 - 18 tahun, angka partisipasi sekolah laki-laki lebih tinggi dibanding angka partisipasi sekolah perempuan. Kondisi angka partisipasi sekolah penduduk usia 7 - 18 tahun menurut jenis kelamin di Indonesia dan Sulawesi Selatan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 7-18 Tahun Menurut Jenis Kelamin Di Indonesia dan Sulsel Tahun 2003
Kelompok Umur Indonesia Sulawesi Selatan
Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan
7 - 12 96,04 96,83 96,42 90,93 93,97 92,41
13 - 15 80,48 81,58 81,01 68,21 71,03 69,56
16 - 18 51,27 50,65 50,97 43,56 47,23 45,37
Sumber: Indikator Kesra Sulsel Tahun 2003, BPS Prov. Sulsel 2004 & Profil Kesehatan Indonesia 2003
Apabila angka partisipasi sekolah dilihat menurut kabupaten/kota, maka masih terdapat 5 kabupaten yang angka partisipasi sekolahnya dibawah 90 pada usia SD (7-12 tahun). Kelima kabupaten tersebut yaitu Kabupaten Bulukumba (89,3), Bantaeng (82,7), Jeneponto (80,4), Tana Toraja (86,7). Selanjutnya pada usia SLTP (13-15 tahun), angka partisipasi sekolah paling rendah di Kabupaten Bantaeng sekitar 46,96 dan Jeneponto sekitar 54,17, sedangkan paling tinggi di Kota Makassar yaitu 85,29 dan Kabupaten Enrekang 84,85. Pada usia SLTA (16-18 tahun), angka partisipasi sekolah berkisar antara 24 - 69 dengan angka terendah pada Kabupaten Wajo, sedangkan angka tertinggi pada Kota Pare-pare.
Dalam Informasi Hasil-Hasil Pembangunan Provinsi Sulsel yang diterbitkan Bappeda  Provinsi Sulsel Tahun 2005, dijelaskan bahwa pembangunan di bidang pendidikan meskipun telah diupayakan langkah-langkah seperti pemberian akses dalam rangka pemerataan dan perluasan kesempatan belajar, namun bila diperhatikan indikator Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) dalam setiap jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.  Hal ini dapat dilihat bahwa APK untuk SD, SLTP dan SMU tahun 2003 masing-masing sebesar 109,07 (SD), 77,56 (SLTP), dan 48,61 SMU. Sedangkan APK Tahun 2004 mengalami penurunan yaitu  108,3 (SD), 76,23 (SLTP), dan 48,47 untuk SMU. Sementara Angka Partisipasi Murni (APM), pada tahun 2003  masing-masing sebesar 93,91 (SD), 65,95 (SLTP), dan 36,03 SMU. Sedangkan APM Tahun 2004 mengalami penurunan yaitu  93,49 (SD), 67,19 (SLTP), dan 37,36 untuk SMU. Angka tersebut diatas dapat dilihat pada tabel 27 di bawah ini.
Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Sulsel Tahun 2003-2004
Uraian Tahun 2003 Tahun 2004
SD SLTP SMU SD SLTP SMU
APK 109,07 77,56 48,61 108,3 76,23 48,47
APM 93,91 65,95 36,03 93,49 67,19 37,36
Sumber: Informasi Hasil-Hasil Pembangunan Sulsel Tahun 2004, Bappeda Sulsel
Kemudian pada RKPD Sulsel Tahun 2007 dijelaskan bahwa APK dan APM mengalami peningkatan dari tahun 2004 ke tahun 2005, masing-masing sebesar 108,32 % dan 93,49 % meningkat menjadi 109,92% dan 92,93% untuk  tahun 2005. SLTP tahun 2004 masing-masing sebesar 76,23 % dan 62,19 % dan tahun 2005 meningkat menjadi 76,32 % dan 61,42 % sedang APK dan APM untuk SM tahun 2004 48,47 % dan 37,36 % meningkat menjadi  51,86% dan 38,17% pada tahun 2005. Sedangkan  untuk pemberantasan buta huruf sudah mengalami kemajuan yang signifikan yaitu pada tahun 2004 jumlah buta huruf Sulawesi Selatan mencapai 763.950 orang   (10,42 %) menurun menjadi 601.736 orang (8,20 %) pada tahun 2005 atau menurun (2,22 %).
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki penduduk merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal. Semakin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu negara mencerminkan semakin tingginya taraf intelektualitas bangsa dari negara tersebut.
Di Indonesia pada tahun 2003, persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum memiliki ijazah/STTB sebanyak 30,37%. Sedangkan yang sudah memiliki ijazah terdiri dari Tamat SD/MI sebanyak 33,42%, tamat SLTP/MTs sebanyak 16,65%, tamat SMU/SMK sebanyak 16,17%, dan tamat Diploma I sampai dengan Universitas sebesar 3,39%.
Di Sulawesi Selatan pada tahun 2003, seperti yang tertuang dalam Profil Kesehatan Sulsel Tahun 2005, menguraikan persentase penduduk yang hanya tamat SD yaitu sekitar 28,39% dan yang tidak tamat SD sekitar 36,97%. Sedangkan yang tamat SLTA ke atas terdapat sekitar 20,28%. Apabila dibanding tahun 2000 dan 2002, maka proporsi penduduk usia 10 tahun ke atas yang tidak tamat SD mengalami penurunan dari 38,96% pada tahun 2000 turun menjadi 37,58% tahun 2002, kemudian turun lagi menjadi 36,97% tahun 2003. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk di Sulawesi Selatan semakin membaik. Selain itu, juga dapat dilihat dengan relatif stabilnya persentase penduduk yang berpendidikan SLTP ke atas baik pada tahun 2000, 2002 dan 2003 yaitu sekitar 34%.
Persentase Penduduk 10 tahun Ke Atas Menurut Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Di Sulsel Tahun 2000, 2002, 2003 & 2005
TINGKAT PENDIDIKAN TAHUN
2000 2002 2003 2005
Tidak/Belum Pernah Sekolah 14,05 13,87 13,65 35,19
Tidak Tamat SD 24,91 23,71 23,32
SD 26,78 28,05 28,39 28,14
SMTP 14,29 14,26 14,36 15,10
SMTA/D2 17,17 16,77 16,93 16,80
Akademi/D3 0,36 0,83 0,85 1,59
Universitas 2,44 2,51 2,50 3,18
Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber: Profil Kesehatan Sulsel 2005 dari  Indikator Kesra Sulsel Tahun 2003, BPS Prov. Sulsel 2004 (Susenas 2000, 2002, 2003,2005)
Angka Penduduk Putus Sekolah
Sesuai Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2005 yang dipublikasi BPS Tahun 2006, menunjukkan jumlah penduduk Sulsel yang tidak bersekolah lagi  hingga tahun 2005 masih lebih sebanyak dibandingkan jumlah penduduk yang menamatkan pendidikannya hingga ke tinggkat Diploma I-Universitas.
Penduduk Sulsel yang menamatkan pendidikannya ditingkat Diploma I-Universitas sebanyak 117.083 orang, sedangkan yang tidak bersekolah lagi mencapai 3.989.093 orang.
Kota Makassar merupakan daerah yang tertinggi angka penduduknya yang tamat di perguruan tinggi sebanyak 75.834 orang dan juga termasuk daerah yang paling tinggi penduduknya tidak melanjutkan pendidikannya yaitu 667.948 orang.
Infrastruktur Pendidikan
Infrastruktur pendidikan berupa bangunan sekolah, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lantjutan Tingkat Pertaman (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan Perguruan Tinggi (PT) meliputi Diploma I-Universitas. Berdasarkan BPS Tahun 2006, terlihat bahwa program pendidikan dasar menjadi sasaran utama pembangunan pendidikan di Sulawesi Selatan yang bisa dilihat dari banyak jumlah bangunan Sekolah Dasar (SD) yang tersebar di 23 kabupaten/kota.
Hingga tahun 2005 tercatat jumlah SD sebanyak 6.253 bangunan, SLTP sebanyak 950 bangunan, dan SLTA sejumlah 367 bangunan. Sementara  bangunan Perguruan Tinggi (Negeri dan Swasta) lebih banyak berlokasi di Kota Makassar yaitu sekitar 60 buah.
Secara detail jumlah bangunan sekolah di Sulsel dapat dilihat pada tabel 29 di bawah ini.
Jumlah Bangunan Sekolah Mulai Dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Di Sulawesi Selatan.
No. Kabupaten/ Kota SD SLTP SLTA
1 Selayar 137 27 7
2 Bulukumba 364 39 13
3 Bantaeng 132 15 4
4 Jeneponto 252 31 10
5 Takalar 236 28 10
6 Gowa 379 48 17
7 Sinjai 241 25 8
8 Maros 251 45 18
9 Pangkep 306 36 8
10 Barru 306 24 8
11 Bone 672 74 21
12 Soppeng 259 33 12
13 Wajo 402 43 10
14 Sidrap 232 37 12
15 Pinrang 315 38 12
16 Enrekang 212 29 10
17 Luwu 226 39 14
18 Tana Toraja 381 88 24
19 Luwu Utara 215 26 8
20 Luwu Timur 136 25 16
21 Makassar 441 159 105
22 Parepare 90 21 7
23 Palopo 68 20 13
Total 6.253 950 367
Sumber: BPS Tahun 2006
Akses Masyarakat Di Sektor Pendidikan
Tabel 30 di bawah ini dapat  dijadikan  bahan untuk  melihat akses masyarakat di sektor pendidikan. Dari data BPS Provinsi Sulsel Tahun 2006 mengenai Jumlah Penduduk Yang Sekolah (SD-PT), Tidak/Belum Pernah Sekolah, Tidak Bersekolah Lagi, dan Usia Sekolah (5-24), menunjukkan bahwa masih kurang kesempatan  bagi penduduk Sulsel terhadap sektor pendidikan.
Kondisi Penduduk Terhadap Sektor Pendidikan di Sulsel Tahun 2005
No. Kondisi Jumlah
1 Yang Sekolah (SD-PT) 2.069.696
2 Tidak Pernah Sekolah 796.091
3 Tidak Bersekolah lagi 3.989.093
Sumber: Diolah dari Data BPS Tahun 2006
Dimana jumlah penduduk yang tidak bersekolah lagi masih lebih tinggi yaitu sekitar 3.989.093 orang, kemudian ditambah penduduk yang belum pernah sekolah sebanyak 796.091 orang. Ini berarti sekitar 4.785.184 orang penduduk Sulsel  (usia sekolah) yang memiliki permasalahan dalam pendidikan.
Sementara jumlah penduduk yang mampu mengenyam pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai ke tingkat Perguruan Tinggi (PT) yang hanya 2.069/696 orang. Ini masih lebih kecil dibandingkan dengan penduduk usia sekolah (5-24 tahun) sebanyak 2.989.477 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih ada sekitar 919.781 orang penduduk Sulsel usia sekolah yang memiliki keterbatasa akses dalam sektor pendidikan.



ASPEK NEGATIF
PENGGAMBARAN ETIKA MORAL  DALAM LINKUP PENDIDIKAN DI SULAWESI SELATAN
MAKASSAR, FAJAR -- Aksi tawuran antarpelajar pecah di Makassar, Selasa siang, 20 September 2011. Tawuran pelajar ini melibatkan pelajar dari tiga sekolah, masing-masing SMKN 3 Makassar, SMAN 8 Makassar, dan SMAN 11 Makassar.

Puluhan pelajar dari tiga sekolah tersebut tawuran di Jalan Baji Gau, Makassar. Informasi yang diperoleh menyebutkan, tawuran berlangsung saat puluhan puluhan siswa SMKN 3 Makassar yang mengendarai sepeda motor, menyerang siswa SMAN 8 Makassar di Jalan Baji Gau. Mereka menyerang menggunakan batu dan balok.

Tidak terima diserang, puluhan siswa SMAN 8 serta didukung warga sekitar membalas dengan melempari penyerang. Aksi saling lempar batu pun tidak terhindarkan. Selama beberapa saat saling serang, siswa SMKN 3 akhirnya mundur.

Para siswa SMKN 3 ini melarikan diri ke depan SMAN 11 di Jalan Mappaouddang. Letak SMAN 11 dan SMAN 8 memang tidak berjauhan. Siswa SMAN 8 dibantu warga pun melakukan penyerangan ke sekolah tersebut. Aksi saling lempar kembali terjadi dan melibatkan pelajar dari tiga sekolah.

Saat siswa SMAN 8 menyerang ke SMAN 11 setelah jam pelajaran usai. Lantaran diserang tiba-tiba, sejumlah siswa SMAN 8 dilaporkan terluka terkena lemparan batu.

Salah seorang warga di sekitar SMAN 11 bernama Andi Panawang mengatakan, penyerangan ke SMAN 11 itu dilakukan siswa SMAN 8 karena menduga siswa yang menyerangnya adalah dari sekolah itu. "Aksi saling lempar baru bubar setelah polisi tiba di lokasi, sementara siswa SMKN 3 lebih awal kabur," kata Panawang.

Kepala Polsekta Tamalate, AKP Agung Setio Wahyudi, membenarkan tawuran antarpelajar tersebut. Kendati ada siswa yang sempat terkena lemparan batu, namun Agung memastikan tidak ada yang dilarikan ke rumah sakit. (sah/yun)
Dikutip dari FAJAR
Pendapat: Setelah membaca berita diatas kita dapat melihat tingkat pendidikan di Sulawesi selatan masih perlu di benahi terutama di makassar keadaan ini dapat kita saksikan sendiri pada media massa,baik visual maupun cetak yang membahas tawuran, bukan hanya dari tingkat SMA dan SMK namun masih teringat di benak kita tawuran yg terjadi di UNHAS. Dan hal yang paling utama yang perlu di perbaiki adalah etika dan moral pelajar kita. Dan menurut informasi di bawah ini, masih banyak hal-hal yang perlu ditingkatkan bukan hanya dalam sektor pendidikan namun sarana dan prasarana juga.adalah suatu hal yang baik jika diremukkan secara bersama dalam suatu forum tidak mesti dilampiaskan dengan tawuran.

Upaya Peningkatannya: Untuk meminimalisasi hal ini, maka ada upaya yang bisa dilakukan, antara lain, perbaikan kurikulum pendidikan secara menyeluruh, misalnya dengan melakukan pendidikan alternatif tambahan diluar kurikulum. Perbaikan sistem pengajaran dan pendidikan, penguatan keteladanan, penguatan nilai agama dalam kehidupan.
Upaya Pencegahan: Berdasarkan sifatnya,tindakan pencegaha penyimpangan sosial dapat dibedakan menjadi dua,yaitu preventif dan represif
-         Tindakan preventif merupakan suatu tindakan yangditujukan guna mencegah terjadi penyimpangan sosial.Jenis tindakan yang bias diberikan berupa teguran,penyuluhan,dan penyebaran informasi.
-         Tindakan represif merupakan tindakan yang dilakukan setelah terjadi penyimpangan yang bertujuan mengembalikan kepada keadaan semula.Pada umumnya,tindakan represif selalu melibatkan bentrokan fisik yang dapat mengakibatkan banyak korban.

 Tawuran sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Sehingga jika mendengar kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media massa. Bukan hanya tawuran antar pelajar saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan tentara , antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki lima, sungguh menyedihkan. Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya geng-geng. Perilaku anarki selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan masyarakat.Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut dengan geng/kelompoknya. Seorang pelajar seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Biasanya permusuhan antar sekolah dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Pemicu lain biasanya dendam Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi para siswa tersebut akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa sekolah yang dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah tersebut. Sebenarnya jika kita mau melihat lebih dalam lagi, salah satu akar permasalahannya adalah tingkat kestressan siswa yang tinggi dan pemahaman agama yang masih rendah. Sebagaimana kita tahu bahwa materi pendidikan sekolah di Indonesia itu cukup berat . Akhirnya stress yang memuncak itu mereka tumpahkan dalam bentuk yang tidak terkendali yaitu tawuran. Dari aspek fisik,tawuran dapat menyababkan kematian dan luka berat bagi para siswa. Kerusakan yang parah pada kendaraan dan kaca gedung atau rumah yang terkena lemparan batu.sedangkan aspek mentalnya , tawuran dapat menyebabkan trauma pada para siswa yang menjadi korban, merusak mental para generasi muda, dan menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia. Setelah kita tahu akar permasalahannya , sekarang yang terpenting adalah bagaimana menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini. Dalam hal ini, seluruh lapisan masyarakat yaitu, orang tua , guru/sekolah dan pemerintah. Pendidikan yang paling dasar dimulai dari rumah.Orang tua sendiri harus aktif menjaga emosi anak. Pola mendidik juga barangkali perlu dirubah.Orang tua seharusnya tidak mendikte anak, tetapi memberi keteladanan.Tidak mengekang anak dalam beraktifitas yang positif. Menghindari kekerasan dalam rumah tangga sehingga tercipta suasana rumah yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang si anak Menanamkan dasar-dasar agama pada proses pendidikan. Tidak kalah penting adalah membatasi anak melihat kekerasan yang ditayangkan Televisi. Media ini memang paling jitu dalam proses pendidikan.Orang tua harus pandai-pandai memilih tontonan yang positif sehingga bisa menjadi tuntunan buat anak.Untuk membatasi tantonan untuk usia remaja memang lumayan sulit bagi orang tua.Karena internetpun dapat diakses secara bebas dan orang tua tidak bisa membendung perkembangan sebuah teknologi Filter yang baik buat anak adalah agama dengan agama si anak bisa membentengi dirinya sendiri dari pengaruh buruk apapun dan dari manapun.Dan pendidikan anak tidak seharusnya diserahkan seratus persen pada sekolah. Peranan sekolah juga sangat penting dalam penyelesaian masalah ini. Untuk meminimalkan tawuran antar pelajar, sekolah harus menerapkan aturan tata tertib yang lebih ketat, agar siswa/i tidak seenaknya keluyuran pada jam – jam pelajaran di luar sekolah. Yang kedua peran BK ( Bimbingan Konseling harus diaktifkan dalam rangka pembinaan mental siswa, Membatu menemukan solusi bagi siswa yang mempunyai masalah sehingga persoalan-persoalan siswa yang tadinya dapat jadi pemicu sebuah tawuran dapat dicegah. Yang ketiga mengkondisikan suasana sekolah yang ramah dan penuh kasih sayang . Peran guru disekolah semestinya tidak hanya mengajar tetapi menggatikan peran orang tua mereka. Yakni mendidik.Yang keempat penyediaan fasilitas untuk menyalurkan energi siswa. Contohnya menyediakan program ektra kurikuler bagi siswa.Pada usia remaja energi mereka tinggi, sehingga perlu disalurkan lewat kegiatan yang positif sehingga tidak berubah menjadi agresivitas yang merugikan. Dalam penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler Ini sekolah membutuhkan prasarana dan sarana, seperti arena olahraga dan perlengkapan kesenian, yang sejauh ini di banyak sekolah belum memadai, malah cenderung kurang. Oleh karenanya, pemerintah perlu mensubsidi lebih banyak lagi fasilitas olahraga dan seni. Dari segi hukum demikian juga.Pemerintah harus tegas dalam menerapkan sanksii hukum Berilah efek jerah pada siswa yang melakukan tawuran sehingga mereka akan berpikir seratus kali jika akan melakukan tawuran lagi.Karena bagaimanapun mereka adalah aset bangsa yang berharga dan harus terus dijaga untuk membangun bangsa ini. Perubahan sosial yang diakibatkan karena sering terjadinya tawuran, mengakibatkan norma-norma menjadi terabaikan. Selain itu,menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek hubungan social masyarakatnya.. Dalam bukunya yang berjudul “Dinamika Masyarakat Indonesia”, Prof. Dr. Awan Mutakin, dkk berpendapat bahwa sistem sosial yang stabil ( equilibrium ) dan berkesinambungan ( kontinuitas ) senantiasa terpelihara apabila terdapat adanya pengawasan melalui dua macam mekanisme sosial dalam bentuk sosialisasi dan pengawasan sosial (kontrol sosial).
  1. Sosialisasi maksudnya adalah suatu proses dimana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri kepada adapt istiadat ( norma ) suatu kelompok yang ada dalam sistem social , sehingga lambat laun yang bersangkutan akan merasa menjadi bagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. Pengawasan sosial adalah, “ proses yang direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, mendidik atau bahkan memaksa warga masyarakat, agar mematuhi norma dan nilai”. Pengertian tersebut dipertegas menjadi suatu pengendalian atau pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggotanya. (Soekanto,1985:113).

ASPEK POSITIF

Kebijakan Pendidikan Pangkep Terbaik Nasional
* Bertabur Prestasi di Usia 48 Tahun

KABUPATEN Pangkep hari ini, Sabtu (9/2), merayakan hari jadi ke-48 tahun. Beragam capaian dan prestasi patut menjadi kebanggaan seluruh lapisan masyarakat daerah itu.

Bukan saja ditingkat regional Sulsel tapi juga di pentas nasional. Pangkep di bawah kepemimpinan Ir H Syafrudin Nur Msi dan HA Kemal Burhanuddin Bsc bertabur prestasi.

Tercatat lima penghargaan bergengsi dari Presiden RI atau kabinetnya yang diraih, belum lagi prestasi lainnya dari kelompok warga hingga perorangan mengatasnamakan Pangkep. Serta penghargaan tingkat provinsi yang juga sekitar delapan penghargaan.

Sebut di antaranya pengakuan dari pemerintah pusat terhadap kebijakan pendidikan gratis di semua tingkat pendidikan mulai SD-SMA negeri maupun swasta, termasuk perbaikan fasilitas dan peningkatan mutu pendidikan di Pangkep.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan 300 ribu warga dan Pemkab Pangkep melalui Bupati Syafrudin Nur Satyalencana Pembangunan Bidang Pendidikan pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2007 dan PGRI di Pekanbaru, Riau, 25 November 2007 lalu.

Bupati Syafrudin Nur merupakan kepala daerah satu-satunya di Sulsel--bersama 12 gubernur dan bupati/walikota se-Indonesia--yang diakui kebijakan pendidikan yang dilaksanakan sebagai yang terbaik untuk memajukan sektor pendidikan di daerahnya.

Setali tiga uang dengan kebijakan pendidikan gratis itu, prestasi sekolah dan siswa/siswi Pangkep pun patut diacungi jempol. Daftar prestasi siswa/siswi Pangkep makin panjang mulai dari Nabil Mahatir dari SD 28 Tumampua II yang meraih juara I Olimpiade Matematika tingkat Sulsel.

Hingga tiga pelajar SMPN 2 Pangkajene yang menerima penghargaan juara Olimpiade Matematika nasional dan memperoleh beasiswa pendidikan dari Pemerintah Turki.

"Kita (Pemkab Pangkep) tak hanya membebaskan biaya pendidikan, tapi juga memperbaiki manajemen pendidikan. Tenaga pengajar lebih didisiplinkan dan ditambah, prasarana sekolah diadakan dan diperbaiki, hingga tunjangan kepada para guru diberikan," urai Bupati Syafrudin Nur.(adv/fir)

program pemkab pangkep
* Pendidikan gratis untuk seluruh sekolah SD sampai SMA * Kesehatan gratis untuk seluruh puskesmas dan RSUD kelas III * Kartu kuning, kartu keluarga, akte kelahiran, dan benih, serta nikah dan KTP gratis bagi warga miskin * Penghapusan retribusi bagi pedagang kecil dan dokar * Bantuan permodalan bagi pagandeng ikan dan sayur, eks pedagang miras, dan nelayan * Bantuan masjid, penyelesaian studi PNS dan mahasiswa Pangkep, pembayaran listrik, koperasi * Pelatihan ibu dan wanita desa, serta pemuda untuk mandiri * Bantuan Rp 50 juta per desa/kelurahan, sepeda RK, pemberian intensif dan haji gratis bagi imam masjid hingga guru ngaji * Bedah rumah bagi warga miskin * Pembangunan BLK, Islamic Center, fasilitas RSUD dan kedokteran * Sarana dan prasarana infrastruktur
program pendidikan pangkep
* Pendidikan gratis SD-SMA negeri maupun swasta * Rehabilitasi sekolah * Pengadaan mobiler dan peralatan sekolah * Pemberian tunjangan khusus bagi guru di wilayah terpencil seperti kepulauan * Pemberian baju dinas guru * THR bagi guru * Program pendidikan S1 dan S2 bagi kalangan guru SD-SMA * Pembangunan sekolah unggulan * Pemberian bantuan baju seragam bagi siswa SD di wilayah kepulauan
penghargaan nasional
* Penghargaan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di bidang ketenagakerjaan * Bangunpraja (Piala Adipura) * Penghargaan nasional penerapan akte kelahiran gratis * Satya lencana pembangunan 2007 * Kader konservasi alam tingkat nasional * Penghargaan akte kelahiran bebas bea * Satyalencana pembangunan bidang pendidikan

IKHE BARDIN/FAJAR
SMAN 2 Pangkajene
Membuat sekolah memiliki nama besar harus dibangun dari siswa yang disiplin dan tenaga pendidik berkualitas. Motto itulah yang diterapkan para pendidik untuk menjadikan sekolahnya menorehkan sejumlah prestasi SMAN 2 Pangkajene Unggulan Kabupaten Pangkep.

Usia yang muda, bukan berarti kalah dalam hal pengalaman. Sejak berdiri 2009 lalu, SMAN 2 sudah mengukir berbagai prestasi dalam ajang bergengsi seperti. Peringkat Umum OSN Biologi Tingkat Propinsi 2010, Peringkat Terbaik Geo Sains Kabupaten 2010, dan peringkat Umum OSN Kimia Tingkat Propinsi.
Menginjak tahun 2011, kembali lagi SMAN ini menelurkan prestasi. Juara I Lomba English Quiz Tingkat SMA se-Sulsel & Barat, Juara I Lomba Biologi Tingkat SMA se-Sulsel, serta Juara I Lomba Matematika Tingkat SMA se-Kab Pangkep. Prestasi ini membuat SMAN 2 Pangkajene eksis di mana-mana.

Untuk meraih itu semua, Kepala Sekolah Firdaus A Noor  menerapkan sistem yang tidak meninggalkan nilai moral. Hal ini, dibuktikan melalui program salat Dhuha yang rutin dilakukan tiap harinya. Tak ketinggalan juga, praktik demi meningkatkan kepercayaan diri siswa pun diajarkan secara terus-menerus.

Usai salat Dhuha, siswa mendengarkan ceramah yang dibawakan langsung murid SMAN 2 Pangkajene. Satu hal menarik lainnya adalah sekolah yang membina 204 siswa ini, memperkenalkan istilah Guru Menjemput. Sebelum masuk ke halaman sekolah, para guru berjejer di gerbang sekolah. Kebiasaan ini dilakukan agar, para guru bisa mengontrol siswanya dengan cermat. Setiap pagi, bisa disaksikan adegan salam sebagai pembuka silahturahmi antara guru dan murid.

Muatan belajar yang padat pun menjadi ciri khas dari sekolah ini. Sepulang sekolah, siswa SMAN 2 Pangkajene dibina dengan berbagai menu ekstrakurikuler. "Masing-masing siswa memiliki bakat. Dan kami, membantu mengeksplor bakat tersebut. Ruang ekstrakurikuler lengkap dengan sarananya diberikan kepada masing-masing organisasi," jelas Firdaus.

Kebanggaan Firdaus pun diikuti dengan kepuasaan dari siswanya. Sarana yang memadai menjadi penunjang utama dalam berkreatifitas. Lab MIPA, Lab Komputer, Ruang Aula, Perpustakaan lengkap Hot Spot, serta asrama, ada di SMAN ini.

Yups, SMAN 2 Pangkajene, ternyata mengusung boarding school di awal kelahiran mereka. Tepat di belakang halaman sekolah, berjejer asrama yang diperuntukkan bagi siswa di luar Kabupaten Pangkep. Asrama ini pun menjadi target khusus bagi segenap keluarga besar SMAN 2 Pangkajene. "Kami berharap, di tahun mendatang. SMA ini sudah siap dengan program boarding school," harap Firdaus.  

Dalam seleksi, sekolah ini menerapkan sistem serba sehari. Mulai sari tes tertulis maupun wawancara hanya dilakukan sehari. Pengumuman kelulusan pun langsung di umumkan hari itu juga.

Momen itu memang menjadi penentu bagi setiap siswa baru yang ingin bergabung di sekolah ini. Di samping itu, dalam menguji siswa baru, orangtua murid pun wajib hadir. "Itu sebagai support bagi anak mereka karena usai mengerjakan soal tes. Pengumuman kelulusan langsung diumumkan pada hari itu juga," tambah Firdaus yang menghabiskan pendidikan S2-nya, Universitas Indonesia Timur, Makassar.

Dalam program tahunan SMAN 2 Pangkajene, tersedia program Guru Favorit. Dan tahun ini, yang berhasil menjadi guru favorit pilihan siswa yakni Suparman.

Dengan rendah hati, Suparman mengatakan, semua guru di SMAN 2 Pangkajene, favorit. "Tinggal proses managemennya saja karena kini, sistem pembelajaran tidak harus kaku. Guru harus bisa terbuka terhadap berbagai perkembangan positif siswanya, dan juga wajib menjadi teman bagi siswanya," cetus Suparman selaku guru Biologi. (Titi Atirah)

SMU 2 Unggulan Di Kab.Pangkep, Jamin Kwalitas

Pendidikan Di Pangkep

Pangkep, 9 juli 2011.
PaSCa berdiri 2 tahun lalu, SMU negeri dua yang mengantongi predikat unggulan di kabupaten Pangkep, tidak main main dalam meningkatkan mutu pendidikan. Terbukti, sebanyak 8 siswa yang saat ini masih duduk di bangku kelas 12, sudah mendapat jaminan masuk ke perguruan tinggi negeri secara bebas. Selain itu, sekolah ini banyak dilirik masyarakat, dikarenakan prestasi yang diraih dalam kurun waktu yang singkat.
Ratusan piala yang berjejer rapih ini, merupakan hasil kerja keras dan kerja sama yang baik oleh pihak sekolah dan siswa di SMU negeri 2 unggulan kabupaten Pangkep. Segudang prestasi yang diukir dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, menjadikan sekolah ini pantas mengantongi predikat nomor satu.

Mendidik siswa menjadi yang terbaik, merupakan misi SMU negeri 2 unggulan kabupaten Pangkep. Dengan proses belajar mengajar yang lebih modern, sekolah ini optimis mampu menghasilkan alumni yang mampu bersaing dan disejajarkan dengan sekolah unggulan lainnya.

Bahkan 8 siswa yang kini baru duduk di kelas 12, sudah mendapat jaminan kelulusan dari perguruan tinggi negeri si SuLawesi selatan. Ini membuktikan bahwa sekolah yang menggunakan gedung bekas kantor bupati Pangkep ini, bisa disejajarkan dengan sekolah unggulan lainnya baik yang ada di SuLawesi selatan, maupun luar SuLawesi.

Untuk menjamin mutu siswa yang akan menimba ilmu di sekolah ini, pihak sekolahpun melakukan proses seleksi ketat, dan pemberian bekal, dengan sistem materikulasi. Yang bertujuan, mengenalkan siswa pada pengetahuan penting, baik dari segi iptek, maupun kegamaan.

Siswa sendiri mengaku sangat senang dengan proses belajar mengajar yang diterapkan pihak sekolah, sehingga motifasi berlipat kerap dirasakan siswa, meski mata pelajaran SuLit sekalipun.

Siswa berharap agar sekolah yang telah memiliki kurang lebih 200 siswa ini, dapat terus berkembang, seiring perkembangan kurikulum.

Sekolah ini sendiri memiliki, 16 kelas reguler, serta laboratorium pendukung, selain itu, sekolah yang berdiri diatas lahan seluas 9000 meter persegi ini, juga memilik asrama. Khusus untuk siswa yang berasal dari kepulauan, dengan kapasitas 40 tempat tidur. Atho.
PENDAPAT : Sulawesi selatan tidak hanya bisaanda gambarkan dengan segala macam aspek negatifnya namun diluar dari hal itu Sulawesi selatan telah menjadi provisnsi percontohan diindonesia untuk pendidikannya,artikel diatas merupakan suatu bukti bagaimana keadaan pendidikan yang berlatar positif,Sulawesi selatan kini teah berevolusi bahkan untuk kategori provinsi dalam background pendidikan Sulawesi selatan berada di posisi 6 untuk tingkat nasional.

MINI CONCLUSION :

BEBERAPA KALANGAN BERPENDAPAT TENTANG pendidikan di sulsel yang cenderung meningkat dan akhirnya mampu bersaing dengan daerah jawa, namun tak sedikit yang berpendapat bahwa seringnya tawuran yang terjadi merupakan symbol Sulawesi selatan yang cenderung menurun,namun terlepas dari hal itu apapun pendapat orang tentang Sulawesi selatan itulah persepsi personalnya, yang perlu diketahui peerintah provinsi sendiri berusaha keras untuk menggenjot pendidikan di sulsel.

3 poin pendapat siswa

Nama: Muh. Fakhry
E-Mail:
arycyber@yahoo.com
Saya dari Jln Tala'Salapang komp P&k b/5 makassar dan saya 17 [ p ].
Sekolah saya: SMK Negeri 05 Makassar
Di daerah: JLN. Sunu 162
Propinsi : Sul-Sel
Hobi saya: hacking
Saran: Pendidikan di Indonesia terlalu mahal. Tidak seperti di Malaysia.terlepas dari hal itu saya senang bias menjadi orang Makassar dan bersekolah disini.
Tanggal: 29/7/2003


Nama: Muhammad Ibnu Fajar
E-Mail:
nunoechan@plasa.com
Saya dari Jl. Kajnjeng dlm I/13 Perumnas antang Makassar dan saya 16 [ P ].
Sekolah saya: SMu negeri 17 Makassar
Di daerah: Jl. Sunu no.11 Makassar
Propinsi : Sulawesi Selatan
Hobi saya: Desain Web, Membaca.
Saran: Menurut saya, jumlah mata pelajaran yang ada di Indonesia itu banyak sekali dan penjurusannya (dulu kelas 3 SMU sekarang kelas 2 SMU), terlalu terlambat. Sebaiknya penjurusan dimulai sejak masuk SMU dan mata pelajaran seperti olahraga dihilangkan (dialihkan ke ektrakurikuler) khusus untuk rattng sulawesi selatan di tingkat nasional saya salut dengan bapak gu bernur congratulation pak.
Tanggal: 25/08/2003

Nama: Achmad Harun Muchsin
E-Mail:
h-roen@plasa.com
Saya dari Makazzart,BTP Blok i no.5 hp:081342666566 dan saya 16 [ p ].
Sekolah saya: SMANSA BAWAKARAENG
Di daerah: Jl.G.Bawakaraeng no.53 Makassar
Propinsi : Sulawesi Selatan
Hobi saya: Maen Basket, Brenank, maen komputer, dan maen...
Saran: Sebaiknya uang SPP ditiadakan! Juga mohon agar kriminalitas berataskan senioritas di SMANSA MAskassar ditindak agar siswa-siswi dapat lebih bersosialisasi dengan siswa lainnya agar mutu sekolah dan pendidikan lebih berkembang.
Tanggal: 05/09/03






Nama: Hanna Aulia Namirah (mira)
E-Mail:
mheera_88@yahoo.co.uk
Saya dari jl. kakatua no.29, makassar dan saya 16 [ w ].
Sekolah saya: SMU NEGERI 17 MAKASSAR
Di daerah: JL. SUNU NO.11, kec. tamalate
Propinsi : SULAWESI SELATAN
Hobi saya: baca novel, denger musik, download apa aja, n ketawa!
Saran: sebaiknya rencana pembangunan fasilitas sekolah segera direalisasikan, bila dana yang dibutuhkan sdh cukup. sebab setahu saya banyak siswa/i yg mengeluh mslh uang ini-itu yg tlh mrk bayar. slain itu, asi kali ya klo jmlh plajarannya dikurangi, ato siswa bebas memilih plajaran yang sesuai dgn minat n bakat mrk. gmn? dukungan dong. thx
Tanggal: 11/mei/2004


Nama: Eman
E-Mail:
earnonpem@yahoo.com
Saya dari MAKASSAR/ BONTOALA dan saya 20 [ P ].
Sekolah saya: ALUMNI SMKN 5 MAKASSAR
Di daerah: kota Makassar /kecamatan Tallo
Propinsi : Sulawesi Selatan
Hobi saya: Membaca buku baik buku pelajaran maupun buku pengetahuan luar.
Saran: Menururt saya pendidikan itu sangat memperihatinkan kenapa ? karena karena tingkat pendidikan kita masih sangat tertinggal dan itu disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu:
1.kurangnya subsidi biaya pendidikan
2.kurikulum pendidikan masih sangat tertinggal dibanding kurikulm pendidikan yang digunakan oleh negara lain.
saran:
hendaklah pemerintah menaikkan subsidi biaya pendididkan di negara kita, hendaklah kurikulum pendidikan dinegara kita diubah menjadi kurikulum yang berbasis kompetenesi agar kita bisa sejajar dengan negara lain dalam hal pendidikan>
Tanggal: 13 Mei 2004


Pendapat para pendidik :

Nama: Judho Siswanto
Mata Pelajaran yang di ajarkan: Sosiologi & P Kn
E-Mail:
yudho_siswanto@plasa.com.
Saya dari Sorowako, Luwu Timur, Nuha dan saya 38 [ P ].
Sekolah saya: SMU YPS - Soroako
Di daerah: Jl. Jawa No. 1 Sorowako
Propinsi : Sulawesi Selatan
Homepage sekolah: http://
Saran: Dengan akan diberlakukannya model kurikulum 2004, kami sekolah yang ada secara geografis cukup jauh dari pusat informasi ( kota ) mohon untuk bagaimana caranya hal-hal yang baru mengenai KBK dapat dengan mudah untuk diakses atau bila ada seminar, pelatihan dan sejenisnya tentang hal tersebut kiranya kami mendapatkan informasi dan bila perlu undangan untuk dapat mengikutinya, baik tingkat regional dan nasional
Tanggal: 02/03/2004


Propinsi : SULAWESI SELATAN
Homepage sekolah:
http://ALBADAR.CO.ID
Saran: Pendidikan adalah kebutuhan dasar (esensial) bagi rakyat indonesia. untuk itu pemerintah bersama masyarakat idonesia harus menempatkan pendidikan sebagai priorotas utama dalam kondisi apapun. Kita teringat pada saat jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. sehari setelah itu Perdana menteri jepang memprioritaskan untuk mencari guru yang masih hidup dan aanak-akan yang dapat dibimbing untuk diselamatkan.

Indonesia dalam kondisi yang fit seharusnya lebih intens memekirkan masa depan bangsa dimasa mendatang melalui pendidikan hari ini.

Wajib Belajar harusnya dikembalikan menjadi Hak Belajar Rakyat. sedangkan yang wajib adalah pemerintah menyediakan fasilitas belajar. bukan sebaliknya.
Tanggal: 22/10/2007



Nama: Hj. Hasrawati Rahman,S.Pd.
Mata Pelajaran yang di ajarkan: Biologi
E-Mail:
hasrah_rahman@yahoo.co.id
Saya dari Bontokaddopepe Kec.Galesong utara kab.Takalar dan saya 34 [ W ].
Sekolah saya: sma negeri 1 galesong utara
Di daerah: jl.pendidikan tamasaju kec.galesong utara Takalar
Propinsi : sulawesi selatan
Homepage sekolah:
http://smansagalut@yahoo.com
Saran: Apa yang dilakukan pemerintah dengan menaikkan standar kelulusan setiap tahun bagi siswa SMA dan yang sederajatnya sangat tepat, karena kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan setiap mata pelajaran sangat jauh di atas nilai kelulusan nasional. Dan saya sangat mendukung seandainya pemerintah memasukkan semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menjadi mata pelajaran yang di UN kan, supaya lulusannya semakin berkompetensi.
Tanggal: 17/07/2008

Nama: Muh. Haddika S.Pd
Mata Pelajaran yang di ajarkan: Bahasa Inggris, Sejarah, PPKn dan Komputer
E-Mail:
haddika_muh@yahoo.com
Saya dari Jl.Garuda No. 5 Pangkajene Sidrap Sulawesi Selatan dan saya 33 [ P ].
Sekolah saya: SMP Negeri 1 Pangsid - Sidrap
Di daerah: Jl .Andi Haseng No.2 Pangkajene - Sidrap
Propinsi: Sulawesi Selatan
Homepage sekolah: http://
Saran: Yth :
(1).Diusulkan semua sekolah (SMP/SMA) umum kiranya allokasi waktu untuk jam pelajaran UAN dipadatkan.
(2). Sekolah didaerah kiranya mata pelajaran muatan lokal (bhs.daerah) dikurangi, karena dipelajari secara tdk sengaja dilingkungan. Kekurangan anak-anak dlm berdiskusi dlm kelas karena banyaknya memakai bhs daerah, sehingga bhs Indonesia masih sukar dikeluarkan.
Terima kasih.
Tanggal: 16/may/2004








PENYIMPANGAN SOSIAL DI SULAWESI SELATAN DAN PENCEGAHANNYA

-penyimpangan seksual sekarang terutama dalam bentuk visual seakan terlanjur sangat mudah diakses,hal ini akan sangat berpengaruh langsung pada gambaran dan pembentukan karakter seseorang, di Sulawesi selatan sekarang yang paling sering dilansir dan di gedor-gedorkan adalah tarian erotis candoleng-doleng.



Candoleng-Doleng
Kata CANDOLENG-DOLENG yang dalam bahasa Indonesia berarti “BERJUNTAI-JUNTAI”..Biasanya Artis candoleng-doleng memakai pakaian yang serba
-----ketat ( seksi)
-----minim (pakaian mahall)
-----mengumbar goyangan erotis..

Aksi Goyang CAndoleng-doleng biasanya dilakukan waktu ada acara..misalnya acara pernikahan pada umum nya...dan dilakukan setelah para tamu kembali....!!!
Dalam goyangannya, artis electon selalu tampil “seksi” dan tidak segan-segan membuka ..... ? baju dan celana hingga yang tersisa hanya pakaian dalam saja...? ALa mandi di kamar mandi (WC).....?
Aksi “buka-bukaan” yang diiringi dengan goyangan “erotis” seakan mampu mengalahkan aksi “goyang ngebor” Inul Daratista, atau “goyang gergaji” ala Dewi Persik, atau “goyang ngecor dan goyang vibrator” milik Denada, atau bahkan goyangan hot ala Nita Talia.

Sedikit gambaran yang mereka lakukan saat bergoyang adalah; meliuk-liuk seperi penari striptis, meraba-raba (Penari telanjang) anggota badan yang tidak layak dilakukan di muka umum (kecuali pas mandi, he……...) , bahkan tidak segan memperagakan pasangan yang sedang melakukan hubungan intim (Af1). Lenguhan, desahan, lengkingan atau teriakan yang berisi ajakan untuk berbuat mesum, atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan tidak tidak malah membuat para lelaki mengucap kata tobat dan meninggalkan lokasi tersebut.

Yang terjadi adalah, mereka ikut naik ke panggung sambil bergoyang bersama para artis electon, tidak lupa saat bergoyang mereka memberikan saweran berupa duit yang biasanya bernilai minimal lima ribu rupiah kepada artis electon. Makin besar nilai uang saweran yang diberikan dari penonton,
serta makin banyak saweran yang didapat oleh sang artis, maka semakin “hot” penampilan mereka.
Cara memberikan saweran pun terbilang “nakal”.
Goyang Candoleng-Doleng adalah
Simalakama Antara Moral dan Ekonomi

 

Tarian Candoleng-Doleng Marak Lagi di Makassar

Senin, 4 Juli 2011 20:03 wib
MAKASSAR- Tarian Candoleng-doleng kembali marak memeriahkan acara pernikahan di Makassar, Sulawesi Selatan.

Padahal pertunjukan yang mengumbar aurat perempuan itu sudah sangat jarang ditemukan dalam beberapa bulan terakhir.

Atraksi Candoleng-doleng bisa dilihat secara terbuka di sebuah pesta pernikahan di Jalan Recing Center, Makassar, semalam.

Diiringi organ tunggal, para penari yang masih berusia muda begoyang di atas panggung sembari mempertontonkan lekuk tubuh mereka.

Kemunculan kembali Candoleng-doleng sangat disayangkan, sebab selain digelar di tempat umum, goyang striptease itu juga banyak disaksikan anak-anak.

Dengan berpakaian seksi, mereka leluasa bergoyang di hadapan penonton yang memadati panggung tanpa menghiraukan siapa saja penontonnya.

Sangat disayangkan, pertunjukan itu sangat menyimpang tidak hanya dari norma agama, namun juga budaya Bugis.

Ironisnya, tidak satu pun polisi yang mencegah apalagi membubarkan tarian erotis itu. Padahal pertunjukan ini digelar di pusat kota Makassar hingga larut malam.

Candoleng-Doleng Wabah di Musim Pesta Nikah (3)

 
SIDRAP - Sebenarnya, candoleng-doleng tidak hanya dipraktikkan di Sidrap, tapi juga di kawasan Ajatappareng (Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Enrekang, Wajo, dan Soppeng) lainnya. Aksi ini paling gampang ditemukan pada bulan Sa'ban atau satu bulan menjelang Ramadhan, dan satu bulan setelah Ramadhan yaitu Syawal.

Bulan itu, dipercaya oleh suku Bugis sebagai waktu yang sangat baik untuk melangsungkan pernikahan.

Selain pada bulan itu, candoleng-doleng juga ditemukan pada bulan Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal dan Jumadil Akhir, yang juga dipercaya sebagai waktu tepat untuk melangsungkan pernikahan.

Ramadan tidak dipilih sebagai bulan untuk melakukan pernikahan, karena dianggap sebagai bulan yang dikhususkan untuk memperbanyak ibadah. Zulkaidah dan Zulhijjah juga dianggap sebagai bulan yang tidak tepat untuk melangsungkan pernikahan.

Alasannya, karena pada saat itu umat muslim sedang melakukan ibadah haji di Tanah Suci Mekah. Sehingga jika melangsungkan pernikahan pada saat itu, dikhawatirkan banyak sanak keluarga yang tidak dapat melihat acara pernikahan sanak familinya.

Pada pesta pernikahan itulah biasanya, artis elekton melakukan goyang candoleng-doleng. Bukan hanya pada malam hari aksi itu dipertunjukkan, tapi juga pada siang hari. Tragisnya, tidak ada ?sensor' dalam aksi itu. Sehingga semua tingkatan umur bisa menyaksikan liukan seksi penyanyi elekton.

Di berbagai pertunjukan, tampak sejumlah anak usia siswa sekolah dasar, tampak bergerombol di bibir panggung, menyaksikan goyang candoleng-doleng. Dan perlu dicatat, goyang candoleng-doleng hanya dipertunjukkan setelah semua undangan meninggalkan lokasi pesta.

Selain itu, goyang candoleng-doleng hanya dapat dipertunjukkan jika tuan rumah acara pesta nikah memperbolehkan pertunjukan itu. Meski demikian, kadang aksi itu terpaksa dilakukan karena desakan penonton, padahal awalnya tuan rumah pemilik pesta melarang pertunjukan erotis itu.
(M Syahlan/Sindo/fit)

Bercandoleng-doleng Demi Sesuap Nasi

 

SIDRAP - Pernahkan anda berpikir mengapa artis elekton mau bergoyang candoleng-doleng? Annie Puspitasari (22) salah seorang artis elekton yang sempat penulis wawancarai mengaku sangat malu melakukan candoleng-doleng, apalagi jika mengingat anak perempuannya yang masih berumur lima tahun.

Tapi himpitan ekonomi membuat 'janda kembang' itu tetap bergoyang candoleng-doleng. Diakuinya, sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang dianggap layak oleh masyarakat. Berbekal ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA), Annie pernah melamar di beberapa perusahaan di kota Makassar.

Namun hingga beberapa bulan sejak mengajukan lamaran, dia tidak pernah dihubungi oleh satupun perusahaan untuk mengikuti tes. Sementara untuk membuka usaha sendiri, Annie mengaku tidak mempunyai modal usaha.

"Membuka usaha butuh modal Mas, sedang saya tidak punya modal sama sekali. Saya juga tidak bisa mengandalkan bantuan dari keluarga, karena saya juga berasal dari keluarga tidak mampu," jelasnya lirih.

Meski terhimpit masalah ekonomi, Annie mengaku selama menjadi artis elekton, dirinya tidak pernah mau menerima tawaran untuk berkencan dengan penontonnya, meski diimingi dengan bayaran yang mahal.

"Goyang candoleng-doleng sudah dianggap bertentang dengan agama, saya tidak mau lagi menambah dosa dengan menerima tawaran berkencan dengan penonton saya," lanjut ibu satu orang anak itu.

Diakui oleh Annie, umumnya artis elekton mau saja melakukan goyang candoleng-doleng, bahkan menerima tawaran berkencan dengan penonton, karena persoalan ekonomi. Untuk tampil dalam satu pesta semalaman atau sehari suntuk, mereka hanya dibayar paling tinggi Rp70 ribu.

Upah tersebut memang sangat murah, karena untuk menyewa peralatan elekton, lengkap dengan artis dan player-nya, hanya membutuhkan dana sekitar Rp700 ribu. Pemilik elekton tentu saja harus membagi uang tersebut untuk membayar artis, yang biasanya berjumlah tidak kurang dari empat orang, ditambah lagi player dan tekhnisi elekton, serta biaya sewa atas peralatan elekton.

Oleh karena itu, saat 'musim pernikahan' seperti saat ini tiba, dianggap sebagai rezeki nomplok oleh artis elekton. Betapa tidak, pada saat itu mereka tentunya akan semakin sibuk karena kebanjiran order manggung di beberapa pesta. Selain order menyanyi dan bergoyang, sebagian dari mereka juga kebanjiran order berkencan dari penonton yang 'nakal'.
(M Syahlan/Sindo/fit)

Candoleng-Doleng Tambah Disawer Makin Hot

 

SIDRAP - Jika banyak kalangan yang menentang maraknya candoleng-doleng belakangan ini, mungkin saja sebagai sesuatu yang wajar. Bagaimana tidak, dalam melakukan aksinya, artis candoleng-doleng tidak segan-segan membuka baju dan celana hingga yang tersisa hanya penutup dada dan celana dalam.

Aksi buka-bukaan tersebut biasanya diiringi dengan goyangan erotis ala striptis, yang mampu mengalahkan ?goyang ngebor' Inul Daratista, atau ?goyang gergaji' ala Dewi Persik. Saat bergoyang, para penyanyi meliuk-liuk seperti penari striptis. Tidak lupa, mereka meraba-raba bagian tertentu tubuhnya, dan memperagakan adegan seolah sedang melakukan hubungan intim.

Jangan pula membayangkan suara merdu sang pernyanyi, dengan teknik olah suara yang benar pada saat artis elekton menampilkan goyang candoleng-doleng-nya. Dalam durasi tiga puluh menit, artis-artis elekton hanya bernyanyi tidak lebih dari sepuluh menit.

Sisanya, mereka hanya mengisi musik ?house dangdut' tersebut dengan goyangan ?erotis', lenguhan, desahan, lengkingan atau teriakan yang berisi ajakan untuk berhubungan badan, atau mengucapkan kata-kata umpatan. Bahkan, ada sejumlah penyanyi yang (maaf) menggosok-gosokkan microphone  di bagian bawah perutnya.

Melihat aksi tersebut, penonton yang kebanyakan lelaki tidak malah mengucap kata tobat dan meninggalkan lokasi tersebut. Malah sebaliknya, mereka ikut naik ke panggung sambil bergoyang bersama para artis electon, tidak lupa mereka memberikan saweran kepada penyanyi minimal senilai Rp5.000.

Makin besar nilai saweran, serta makin banyaknya saweran yang didapat artis candoleng-doleng, maka semakin ?hot' pula penampilan mereka.

Cara memberikan saweran pun terbilang ?nakal'. Mereka memberikan saweran dengan cara menyelipkan sendiri uang tersebut ke dalam pakaian dalam artis electon yang sedang bergoyang. Tidak sekedar menyelipkan uang yang mereka lakukan, tapi mereka juga meraba-raba sang artis candoleng-doleng, tepat di mana mereka menyelipkan uang saweran-nya.
(M Syahlan/Sindo/fit



DAMPAK AKHIRNYA :

65 Persen Remaja Makassar Tidak Perawan Lagi !

http://4.bp.blogspot.com/_-QzHaHjalQY/Sp8fmFkOdsI/AAAAAAAAElU/GDjRgiQ8sd8/s400/aneh.jpgMetpo Management melakukan survei tentang perilaku remaja Kota Makassar, hasil surveinya sebagian besar remaja di Makasar telah melakukan hubungan suami istri. Metpo Management merupakan lembaga training motivasi di Makassar.

"Kalau menurut survei BKKBN Sulsel mengatakan 65 persen remaja di Sulsel sudah melakukan. Selain itu, kami telah melakukan survei sendiri terhadap 100 orang sampel remaja diMakassar dengan menggunakan metode acak. Hasilnya mereka mengatakan sudah tidak virgin lagi dengan beberapa alasan," ujar Direktur MetpoManagement Akbar Amir MPd kepada Tribun, di sela-sela Motivator Training bersama pelajar, mahasiswa, di Panti Asuhan Ummu Aimin, Jl Beruang, Makassar.

Akbar mengatakan, 100 orang sampel ini merupakan pelajar dan mahasiswa sejal Januari lalu. Hasilnya 80 persen remaja melakukan atas dasar suka sama suka, 10 persen yang melakukan karena tidak mau dikatakan kuper (kurang pergaulan), dan 10 persennya lagi melakukan karena atas dasar sayang kepada sang pacar. "Ini memprihatinkan sekali," ujar Akbar yang juga alumnus Pascasarjana UNM.

Perilaku dan gaya hidup remaja yang meresahkan orangtua dan moralis ini sekaligus mengkonfirmasikan kelakar di kalangan remaja gaul, "hari gini masih perawan." Olehnya itu, Akbar berharap remajaMakassar lebih banyak melakukan kegitan positif. Misalnya memperbaiki ahlak dan perbanyak ibadah. Ini merupakan training kedua yang digelar selama bulan Ramadan. Sebelumnya Metpo Management juga melakukan training motivasi di PSK Mattirodeceng Makassar. Pada training kali ini Metpo memfokuskan pada motivasi pendidikan yang melibatkan pelajar, dan mahasiswa se-Makassar.

Bagaimana baiknya untuk pencegahan dan penanggulangannya :
Peran Sentral Agama dan Keluarga
TRAINING Motivasi merupakan langkah Metpo Management untuk mengubah pola pikirnya. Misalnya saja untuk pelajar atau mahasiswa saat menempuh pendidikan. "Sekarang sebagian besar orientasinya adalah mendapatkan nilai bagus, mereka lupa tujuan belajar bukan nilai tinggi semata," tambanya.

Training Motivasi ini Akbar memberikan motovasi pendidikan, dan mengubah pola pikir remaja dan dan pribadi yang mandiri tanpa bantuan orang lain. "Caranya adalah mengubah positif tingking menjadi positif felling. Postif tingking ini ternyata 75 persen adalah emosi dan nafsu sehingga hasilnya tidak bagus. Sementara jika kita menggunakan positif felling yang kita gunakan adalah hati dan perasaan. Inilah peran agama dan keluarga " jelasnya.



Penderita HIV/AIDS Bertambah, Alokasi Anggaran Dikurangi

ist
HIV/AIDS

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Alokasi anggaran untuk Biro Napza HIV/AIDS mengalami penurunan drastis di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pokok 2012.  Sementara jumlah penderita bertambah menjadi 800 orang yang tersebar di hampir semua kabupaten/kota, khususnya di Makassar.

Sesuai Rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara  (PPAS) APBD 2012, Biro Napza hanya dialokasikan Rp 2,7 miliar, atau turun sekitar Rp2 miliar dari anggaran tahun ini (2011), yakni Rp 5,2 miliar.

Terkait penurunan tersebut, Kepala Biro Penanggulangan Narkotika Psitropika Zat Aditif  (Napza) dan HIV/AIDS Sulsel, Sri Endang Sukarsi mengaku bisa memahami, karena di tahun depan ada alokasi anggaran ke sektor lain yang membutuhkan dana tidak sedikit. Seperti dana Pilkada Gubernur Sulsel sekitar Rp 225 miliar yang dimasukkan di dana tak disangka.

"Dengan berkurangnya anggaran, tentu beberapa program kita minimalkan, biar tetap jalan. Tidak semua penyelesaiannya harus menggunakan uang," kata  Sri saat ditemui usai menghadiri rapat evaluasi dengan Komisi E di Lantai II Gedung Tower DPRD Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Senin (5/12)

Sri menyebutkan, dengan penambahan penderita HIV/AIDS tersebut, maka jumlah keseluruhan sudah mencapai 4.908 orang selama kurun waktu 10 tahun terakhir.

"Ini data hingga September 2011. Dan tentu masih memungkinkan bertambah, karena terus dilakukan pendataan,"jelas Sri.

Menurutnya, penderita HIV/AIDS tersebut, sebagian sudah ditangani langsung bekerjasama dengan masing-masing pemerintah kabupaten/kota. Hanya saja, pihaknya belum merinci secara detail, mengenai penderita di setiap daerah.

"Pastinya program sosialisasi kita jalan terus, termasuk kita siapkan program khusus di 2012 mendatang. Nanti kami sampaikan program baru, termasuk antisipasinya," tambah Sri.

Penderita HIV/AIDS didominasi usia produktif, yakni 14-21 tahun.  Saat ini, Sulsel berada di peringkat 7 nasional dari jumlah penderita HIV/AIDS. Jika sebelumnya kebanyakan di Makassar, maka penderita sudah menyebar ke hampir semua pelosok daerah di Sulsel.

Penularan virus mematikan ini, banyak disebabkan oleh prilaku seks bebas, dan penggunaan narkotika di kalangan remaja, serta jarum suntik. Bahkan, di salah satu perkampungan di perbatasan Kabupaten Bone, dan Kabupaten Soppeng, ada tujuh penderita HIV/AIDS atau Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dari kalangan remaja yang diisolasi oleh keluarga dan lingkungannya.(*/tribun-timur.com)



Penyebab Penyimpangan Perilaku Seksual ( latar belakang )
BERDASARKAN HASIL SURVEI LAPANGAN :
-          ajakan pasangan ataupun teman  (para pelajar remaja SMA  di MAKASSAR)
-          terpengaruh video,suara maupun visualiasi lainnya (dikutip dari pembicaraan/interview penulis dengan beberapa pemuda yang pernah melakukan prilaku menyimpang dengan pasangan di PANGKEP DAN MAKASSAR)
-          rangsangan dari dalam diri (birahi) yang tak terkendali (ungkap para pekerja malam di jalan panaikang dan monument mandala)
-          kebiasaan yang susah dihilangkan (remaja SMA kelas 11 salah satu SMA  di PANGKEP)
-          dorongan faktor ekonomi  (ungkap para pekerja malam di jalan panaikang dan jalan ratulangi  monument mandala)
-          dijebak teman ataupun family (pengalaman pahit salah seorang pekerja malam di jalan panaikang)

Untuk mencapai dan mengikis perilaku tersebut,berikut beberapa upayanya:


a.      Peningkatan pemerataan kesempatan belajar

Dalam hubungan dengan peningkatan pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan diusahakan keterpaduan pengelolaan sistem pendidikan nasional yang memungkinkan seti-   ap rakyat Indonesia memperoleh pendidikan yang layak se-bagai warga negara.
b. Peningkatan mutu pendidikan

Dalam hubungannya dengan peningkatan mutu pendidikan, penanganannya dikaitkan dengan kebijaksanaan pemerataan, agar tercipta keseimbangan yang dinamis antara kedua as-  pek tersebut.

c. Peningkatan relevansi pendidikan

Peningkatan relevansi pendidikan berkaitan erat dengan proses pembangunan nasional. Kebijaksanaan yang ditempuh ialah mengusahakan keterpaduan dalam perencanaan pendi-dikan dan pembangunan nasional, agar pendidikan merupakan wahana penunjang yang efektif bagi proaea pembangunan na­sional.

d. Peningkatan pendidikan masyarakat

Pendidikan di luar sekolah (pendidikan masyarakat) mem­berikan kesempatan untuk memperoleh berbagai jenis dan tingkat pengetahuan praktis dan ketrampilan dasar kepada anak didik yang kurang dapat memanfaatkan pendidikan se­kolah.


e. Pembinaan dan pengembangan generasi muda
Pembinaan dan pengembangan generasi muda telah ditingkat- kan melalui berbagai usaha yang diarahkan untuk memberi- kan bekal yang diperlukan, guna mempersiapkan generasi muda sebagai generasi penerus perjuangan bangsa dan pem­bangunan nasional.

f. Pembinaan sekolah sebagai pusat kebudayaan
Pengembangan sekolah sebagai pusat kebudayaan dilaksana-  kan dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan melalui : pengembangan logika, etika, estetika dan praktika. Seko-  lah diharapkan menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya.

g. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan pendi­dikan
Kebijaksanaan pokok yang ditempuh untuk peningkatan efi­siensi pendidikan diusahakan dalam keterpaduan pengelo-   laan sistem pendidikan nasional yang tercermin dalam hu­bungan antara pemerintah dan badan swasta dan antara De­partemen yang satu dengan Departemen yang lain.


Usaha-usaha pencegahan lainnya
1. Sikap dan pengertian orang tua
Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bias secara optimal diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka. Orangb tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak.
2. Pendidikan seks
Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan informatif.
Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya.,

                PELATIhan PSK
MAKASSAR - Sejumlah pekerja seks komersial (PSK), melakukan kursus tatarias kecantikan di Makassar, Rabu (6/10). Sebanyak 60 PSK mendapat pelatihan keterampilan oleh Dinas Sosial Kota Makassar seperti menjahit dan tatarias kecantikan. FOTO ANTARA/Yusran Uccang/10 Disiarkan: Rabu, 06 Oktober 2010 13:33 WIT
6 PSK Dibekuk Polisi Saat Berkeliaran di Ruko Topaz
Tribun Timur - Minggu, 2 Oktober 2011 09:46 WITA
Share |

diamankan polisi saat mereka kedapatan yang berkeliaran di sekitar ruko Topaz.
Berita Terkait
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pihak Kepolisian Sektor Panakkukang menggelar razia cipta kondisi terkait penyakit masyarakat, Minggu (3/9) dini hari.

Pada razia tersebut, sebanyak enam wanita yang diduga sebagai pekerja seks komersial diamankan polisi saat mereka kedapatan yang berkeliaran di sekitar ruko Topaz.

Masing-masing adalah Marlina (25) warga Jl Pettarani III, Andini Wulandari (20) warga Kompleks Manggararupi Permai Blok A6, Anti (33) warga Jl Andi Pettarani II,
Indah Sari (33) warga Toddopuli IV,
Risky (21) warga Jl Andi Pettarani III dan Irmayani (21) Jl Andi Pettarani III, Kecamatan Panakkukang. Mereka kemudian digiring ke Mapolsek Panakkukang.(*)

 PENUTUP
Kesimpulan
Di Indonesia, pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia-manusia yang cerdas, bertanggung jawab, bermoral, berkepribadian luhur, bertaqwa, dan memiliki keterampilan. Dengan anggaran 20 % dari APBN. Maka tujuan ini bukanlah hal yang mustahil. Sudah banyak bukti yang mendukung adanya peningkatan pendidikan ini. Prestasi anak-anak bangsa juga banyak mengharumkan bangsa di berbagai kancah internasional.untuk Sulawesi selatan sendiri sekarang berada diposisi enam namun pemprov yakin sul-sel mampu gembali menggebrak utnuk masuk 5 besar provinsi dengan pendidikan terbaik diindonesia
Namun kita tidak boleh lengah, masih banyak pendidikan yang belum mencapai tujuannya. Ini diindikasikan dengan banyaknya kerusakan moral di kalangan pelajar, seperti beredarnya video-video porno yang bisa diakses melalui ponsel. Ini akibat dari bebasnya pengawasan dan akses informasi yang masuk kepada masyarakat, tanpa ada kontrol dari pihak yang terkait.
Korupsi dan kolusi serta nepotisme masih banyak kita temui dalam birokrasi pendidikan, sehingga menimbulkan konflik dikalangan internal dan berpotensi untuk menimbulkan konflik perpecahan. Pendidikan juga masih banyak yang kita lihat belum berpihak pada rakyat umum. Di kalangan masyarakat mahalnya pendidikan membuat mereka lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, sandang dan papan. Belum tercapainya tujuan pendidikan diakibatkan oleh:
a. Belum terintegrasinya pendidikan moral (agama) dengan pendidikan lainnya. Ada sebagian anggapan bahwa pendidikan agama hanya dilakukan di pesantren, padahal di sekolah umum pendidikan agama juga diajarkan hanya saja porsinya masih sedikit, sehingga belum maksimal.
b. Pendidikan etika hanya terbatas pada pengetahuan
c. Minimnya keteladanan
d. Sikap hidup yang semakin materialis dan hedonis
Untuk meminimalisasi hal ini, maka ada upaya yang bisa dilakukan, antara lain, perbaikan kurikulum pendidikan secara menyeluruh, misalnya dengan melakukan pendidikan alternatif tambahan diluar kurikulum. Perbaikan sistem pengajaran dan pendidikan, penguatan keteladanan, penguatan nilai agama dalam kehidupan.


KAJIAN PUSTAKA

http://antara.news.com
http://tribuntimurmakassar.co.id

0 comments:

Post a Comment