blog visitors

Membaca Cepat dan Berpikir Kritis (Speed Reading and Critical Thinking)


Membaca Cepat dan Berpikir Kritis (Speed Reading and Critical Thinking)


Defenisi Membaca Cepat (Pengertian Membaca Cepat)




Nah kali ini daeng akan bagikan artikel ataupun pengetahuan daripada membaca cepat dan berfikir kritis,bagaimana sebenarynya membaca cepat itu,apa tujuannya, optimalkah membaca cepat itu,sementara di pihak lain apa iti berfikir kritis dan bagaimana trik dan caranya agar memiliki kemampuan berfikr yang kris  ?? mari kita bahas
Membaca cepat adalah perpaduan atau kombinasi maupun kesatuan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca suatu jenis bacaan. Membaca cepat  juga merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Kecepatan membaca seseorang juga harus seiring dengan kecepatan memahami bahan bacaan yang telah dibaca.


Nah,ketika anda membaca cepat suatu bacaan, tujuan utamanya sebenarnya bukan untuk mencari kata ataupun gambar secepat mungkin, namun untuk mengidentifikasi dan memahami makna dari bacaan tersebut seefisien mungkin dan kemudian mentransfer informasi ini kedalam memori otak untuk jangka panjang dalam otak kita. Kemampuan membaca cepat merupakan keterampilan memilih isi bacaan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan kita yang sebelumn membaca kita sudah tentukan, tentu yang mengandung relevansi dengan pembaca tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian-bagian lain yang tidak diperlukan.

Dalam membaca cepat didalamnya terkandung pemahaman yang cepat pula. Pemahaman inilah yang sebenarnyamenjadi prioritas utama dalam kegiatan membaca cepat, bukan kecepatan. Akan tetapi, tidak berarti bahwa membaca lambat akan meningkatkan pemahaman, bahkan tidak sedikit orang yang biasa membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Sebagaimana pengendara mobil, seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca seseorang sangat tergantung pada materi dan tujuan membaca, dan sejauh mana keakraban pembaca dengan materi bacaan.
tips belajar: Membaca Cepat (1)
Oleh: Andrias Harefa*

Dari publikasi harian KOMPAS di tahun 80-an, saya pernah mencatat bahwa ada beberapa lembaga di Indonesia yang menyelenggarakan kursus membaca cepat (speed reading). Di antaranya ialah Institut Manajemen Prasetya Mulya (1984, sekarang pun masih), Aksara Dinamika (1984-1985), dan Data Search Indonesia (1987, sekaang tidak lagi). Dan setelah tahun 90-an, saya melihat bahwa speed reading merupakan salah satu mata pelatihan yang juga ditawarkan oleh Lembaga Manajemen PPM.


Membaca cepat diperlukan bagi mereka yang ingin terus meluangkan waktu yang relatif sempit untuk membaca. Mereka ini adalah orang-orang yang relatif sibuk karena memikul tugas dan tanggung jawab besar. Para eksekutif puncak, baik di lembaga-lembaga kenegaraan maupun bisnis, adalah contohnya. Kebutuhan mereka akan informasi dan pengetahuan relatif tinggi, sementar aktivitas keseharian mereka sangat padat sehingga waktu membaca sangat sedikit, itupun kalau mereka ingin tetap melakukannya. Pendek kata keterampilan membaca cepat diperlukan terutama bagi orang sibuk yang masih mau membaca. Tidak harus eksekutif puncak, wartawan, pengacara, dokter, atau pengajar dan ibu rumah tangga yang sibuk pun dapat memanfaatkannya.

Kemampuan membaca orang pada umumnya diperkirakan sekitar 100-250 kata per menit (kpm). Dengan mengikuti pelatihan speed reading, seberapa cepat kemampuan membaca itu dapat ditingkatkan? Jawabannya sangat bervariasi. Namun dengan menyediakan waktu berlatih membaca cepat 2 jam per minggu selama 4 minggu pertama dapat diharapkan peningkatan 2 kali dari sebelumnya. Tentu saja diperlukan coaching dari orang yang telah terlatih untuk itu, atau setidaknya dengan buku panduan yang cukup mudah diikuti pembacanya.



Ketika saya pertama kali mengikuti kursus membaca cepat dibawah asuhan The Liang Gie, pembelajar otodidak dan pendiri Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi di Yogyakarta, tahun 1986, saya dapat meningkatkan kemampuan membaca cepat dari 250 kpm menjadi 500 kpm dalam satu bulan. Hal ini meningkatkan gairah saya untuk lebih rajin membaca, sekalipun waktu itu saya bukanlah orang sibuk. Kala itu saya berhitung secara matematis bahwa bila kecepatan membaca saya rata-rata 500 kpm dan saya membaca buku selama 20 menit per hari, maka dalam satu tahun saya dapat membaca 500 kata x 20 menit x 365 hari = 3.650.000 kata. Andai jumlah kata per buku dihitung 80.000 kata, maka dengan 20 menit membaca tiap hari saya dapat membaca sekitar 45 buku, sebuah jumlah yang memungkinkan seseorang menulis skripsi tingkat strata satu (rata-rata daftar kepustakaan sebuah skripsi di Amerika adalah 40-an buku). Menarik bukan?


tips belajar: Membaca Cepat (2)
Oleh: Andrias Harefa*

Kemauan dan kemampuan membaca Theodore Roosevelt, salah seorang presiden Amerika, sungguh luar biasa. Ia ditemukan membaca tiga buku dalam seharinya selama di Gedung Putih. Presiden Amerika lainnya, John F. Kennedy, diketahui mampu membaca dengan kecepatan mengagumkan, 1.000 kpm (kata per menit). Ini tentu prestasi yang luar biasa. Sebab, mengutip Harry Shefter yang pernah menulis Faster Reading Self Thought, pada umumnya orang biasa dapat melatih dirinya membaca sampai 350-500 kpm saja.

Hal yang sama juga ditegaskan Norman Lewis dalam karyanya How To Read Better and Faster. Fakta yang Lewis temukan dari Reading Clinic, Darmouth College, dan fakta dari kursus-kursus membaca cepat di Universitas Florida maupun Universitas Purdue, menunjukkan bahwa orang yang tidak terlatih hanya mampu membaca sekitar 110-245 kpm saja. Dan bila mereka dilatih selama 2-4 minggu (tidak disebutkan berapa jam pelatihannya), maka kemampuan itu dapat ditingkatkan menjadi 325-500 kpm. Apakah hal yang sama berlaku untuk orang Indonesia? Diperlukan suatu penelitian untuk menjawabnya.


Kita belum tahu seberapa cepat rata-rata orang Indonesia membaca. Kita juga tidak punya catatan berapa banyak buku yang pernah di baca Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir, serta seberapa cepat mereka mampu membaca. Kita tidak tahu apakah Pak Harto saat menjadi presiden suka membaca. Bung Rudy (B.J. Habibie) yang cendikiawan (katanya Bung Karno negarawan dan Pak Harto itu hartawan) mungkin banyak membaca juga, meski kita tak tahu apa bacaannya dan berapa kecepatan ia membaca. Lalu Gus Dur, yang pernah mengaku mampu mengingat sekitar 2.000 nomor telepon diluar kepala sebelum stroke, juga pasti doyan membaca. Hanya berapa cepat ia melakukan aktivitas itu dan apakah dengan gangguan penglihatan yang dideritanya belakangan, apakah ia masih rajin membaca?

Terlepas dari semua soal di atas, membaca sebagai kegiatan sosial-budaya jelas memerlukan kemauan untuk melakukannya secara konsisten. Bahkan Christine Nutall, penulis Teaching Reading Skill in a Foreign Language, pernah mengatakan bahwa membaca sebenarnya tidak dapat "diajarkan". Orang harus membuka diri untuk bersedia belajar membaca. Artinya faktor kemauan lebih dominan ketimbang faktor pengajar atau pelatih. Seseorang diyakini dapat belajar membaca, sekalipun tanpa pengajar khusus untuk itu. Juga dalam hal belajar membaca cepat.

Jika demikian halnya, saya sering bertanya-tanya dalam hati, apakah yang membuat orang Indonesia kurang sekali menunjukkan kemauan dan minat untuk membaca? Mengapa orang sering mengeluhkan rendahnya minat baca masyarakat kita?



Berpikir Kritis


Learning without thought is labor lost Confucius

Berpikir Kritis adalah "ketetapan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk apakah kita sebaiknya menerima, menolak atau menangguhkan penilaian terhadap suatu pernyataan, dan tingkat kepercayaan dengan mana kita menerima atau menolaknya." dari Critical Thinking oleh Moore dan Parker.



Strategi Untuk Membaca Secara Kritis
Tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut pada diri anda sendiri:
Apa topiknya?
Kesimpulan apa yang diambil oleh pengarang tentang topik tersebut?
Alasan-alasan apa yang diutarakan pengarang yang dapat dipercaya? 
Hati-Hati dengan alasan yang tidak obyektif (misalnya kasihan, ketakutan, penyalahguaan statistik, dll) yang dapat menipu pembaca.
Apakah pengarang menggunakan fakta atau opni?
Fakta dapat dibuktikan.
Opini tidak dapat dibuktikan dan mungkin tidak mimiliki dasar yang kuat.
Apakah pengarang menggunakan kata-kata netral atau emosional?
Pembaca kritis melihat di balik kata-kata untuk mengetahui apakah alasan-alasan jelas.


Karakteristik Pemikir Kritis
Mereka jujur terhadap diri sendiri
Mereka melawan manipulasi
Mereka mengatasi confusion
Mereka bertanya
Mereka mendasarkan penilaiannya pada bukti
Mereka mencari hubungan antar topik
Mereka bebas secara intelektual
Diadaptasi dari Critical Thinking oleh Vincent Ryan Ruggiero



Thanks udah ngunjungin blognya daeng ekky,semoga pengetahuannya berguna yah.....


Posted by : Muhammad Rezki Rasyak

0 comments:

Post a Comment